Syirik : Sumpah dengan Selain Allah

0 komentar


Sumpah dengan menyebut nama selain Allah ta’ala merupakan tradisi Jahiliyyah yang turun-temurun terwarisi hingga kini di sebagian kalangan juhalaa’. Budaya latah ini wajib dihilangkan karena termasuk diantara hal-hal yang mengurangi kesempurnaan tauhid kita. Banyak nash-nash larangan bersumpah dengan selain Allah ta’ala, diantaranya:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَال: سَمِعْتُ عُمَرَ، يَقُولُ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: " إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ "، قَالَ عُمَرُ: فَوَاللَّهِ مَا حَلَفْتُ بِهَا مُنْذُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ ذَاكِرًا، وَلَا آثِرًا
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Aku mendengar ‘Umar berkata : “Rasulullah pernah berkata kepadaku : ‘Sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan menyebut nama bapak-bapak kalian”. ‘Umar berkata : “Maka demi Allah, aku tidak akan sengaja bersumpah dengannya (menyebut bapaknya) sejak aku mendengar (sabda) Nabi (tersebut)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6647 dan Muslim no. 1646].

Sumpah dalam Al-Qur’an

0 komentar


Kata sumpah berasal dari bahasa Arab, yaitu al-qasam (اْلقَسَمُ) yang bermakna al-yamiin (اْليَمِينُ), yaitu menguatkan sesuatu dengan menyebutkan sesuatu yang diagungkan dengan menggunakan huruf-huruf (perangkat sumpah) seperti wawu dan yang lainnya. Huruf-huruf dimaksud ada tiga, yaitu:
1.    Wawu (و)
Contohnya seperti dalam firman Allah ta’ala :
فَوَرَبّ السّمَآءِ وَالأرْضِ إِنّهُ لَحَقّ
Maka Demi Rabb langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi)” [QS. Adz-Dzariyaat : 23].

Tauhid, Pokok Dakwah Para Nabi dan Rasul

0 komentar


Allah ta’ala telah menciptakan langit-langit dan bumi, serta apa-apa yang ada diantaranya dan apa-apa yang ada di dalamnya. Allah ta’ala telah menciptakan yang nyata (syahadah) dan yang tidak nyata (ghoib). Allah ta’ala telah menciptakan manusia dan jin, maka tidaklah Allah membiarkan mereka begitu saja dengan sia-sia. Tetapi Allah telah mengutus para nabi dan rasul (al-anbiya wal-mursalin), dengan membawa Kitab yang diwahyukan oleh Allah ta’ala kepada mereka. Bagi yang menaati nabi/Rasul akan menjumpai nikmat dan rahmat Allah, yaitu surga. Sebaliknya, bagi yang durhaka akan menjumpai kemurkaan dan siksa Allah, yaitu neraka. Demikianlah keberadaan anbiya dan mursalin.
Maka sesungguhnya perjalanan dakwah para nabi dan rasul dari masa ke masa dan di manapun mereka diutus di muka bumi ini dan kepada ummat siapapun, mereka mengawali dan memulai dengan ilmu “Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah”, dengan Tauhid. Perjalanan dakwah tersebut dinyatakan pada beberapa ayat Al-Qur'an.

Mengadakan Papan Sutrah di Masjid

0 komentar


Sebagaimana telah dibahas pada artikel Apa Hukum Sutrah dalam Shalat ?, pada kesempatan ini saya akan sedikit menyinggung pembahasan lain tentang sutrah, yaitu hukum papan sutrah dalam masjid. Sebagian orang menganggap membuat atau memakai papan sutrah di masjid adalah bid’ah. Bahkan dikatakan, menyerupai penyembahan terhadap berhala. Really ?....
Dulu, Nabi pernah sengaja membawa tombak kecil yang beliau pergunakan sebagai sutrah di tanah lapang (mushalla) ketika shalat ‘Ied. Al-Imaam Al-Bukhaariy rahimahullah membahas permasalahan ini dengan membuat satu bab dalam kitab Al-Jaami’ush-Shahiih-nya dengan judul:
حمل العنزة أو الحربة بين يدي الإمام يوم العيد
“Membawa ‘anazah atau harbah untuk diletakkan di depan imam ketika shalat 'Ied”.

Menempelkan Pundak dan Kaki dalam Shaff (2)

5 komentar


Dalam artikel Hukum Seputar Shaf dalam Shalat Berjama'ah dan Menempelkan Pundak dan Kaki dalam Shafftelah dijelaskan pensyari’atan meluruskan dan merapatkan shaff dalam shalat berjama’ah. Artikel kali ini – setelah beberapa saat libur – akan dituliskan keterangan tambahan tentang makna kaifiyyah merapatkan shalat, yang sebenarnya, dalam artikel sebelumnya juga telah dijelaskan. Hanya untuk memperkuat saja….
عَنْ أَنَس، قَالَ: أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَأَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِوَجْهِهِ، فَقَالَ: " أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ وَتَرَاصُّوا فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي "
Dari Anas, ia berkata : “Iqamat dikumandangkan, kemudian Rasulullah menghadap kami dengan wajahnya lalu bersabda : ‘Luruskan shaff-shaff kalian dan rapatkanlah, karena aku melihat kalian dari balik punggungku” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 719].